Jakarta, Reportasenusantara.com - Perang antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran kini telah memasuki hari kesepuluh tanpa tanda-tanda mereda. Situasi di kawasan Timur Tengah semakin memanas seiring meningkatnya intensitas serangan balasan Iran yang dinilai semakin presisi dan sulit diantisipasi oleh sistem pertahanan udara Israel.
Di berbagai wilayah Israel, dampak konflik kian terasa. Infrastruktur mengalami kerusakan, korban jiwa bertambah, dan kepanikan warga meningkat. Meski informasi resmi dinilai terbatas, berbagai laporan dari media sosial menunjukkan kondisi di lapangan yang jauh lebih genting.
Gelombang penolakan terhadap perang juga mulai muncul dari dalam negeri Israel. Pada 7 Maret 2026, ratusan warga menggelar aksi demonstrasi di Habima Square, menuntut penghentian konflik. Aksi tersebut bahkan diikuti sejumlah anggota Knesset yang menilai perang lebih mencerminkan kepentingan politik pemerintahan Benjamin Netanyahu dibanding kebutuhan keamanan nasional.
Di sisi lain, penolakan terhadap kebijakan militer Donald Trump juga menguat di Amerika Serikat. Hasil jajak pendapat dari Ipsos menunjukkan hanya sebagian kecil publik yang mendukung aksi militer tersebut. Sejumlah analis militer seperti Douglas McGregor dan Larry C. Johnson turut meragukan klaim keberhasilan operasi yang disampaikan pihak Gedung Putih.
Yang menjadi sorotan utama adalah kemampuan Iran dalam memperluas konflik menjadi skala kawasan. Serangan tidak hanya menyasar wilayah Israel, tetapi juga kepentingan militer AS dan objek vital di kawasan Teluk hingga Turki dan Siprus. Dampaknya, stabilitas keamanan dan ekonomi regional terguncang hebat.
Blokade Iran atas Selat Hormuz memperparah situasi global dengan terganggunya distribusi energi dunia. Harga minyak mentah melonjak hingga 107 dolar AS per barel, memicu kekhawatiran krisis energi internasional.
Kecemasan negara-negara Teluk semakin terlihat dalam pertemuan diplomatik di Moscow yang melibatkan Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov. Para duta besar negara Arab meminta Rusia menekan Iran agar menghentikan serangan. Namun Lavrov menegaskan bahwa tindakan Iran merupakan respons atas agresi militer yang lebih dulu dilakukan oleh Israel dan AS.
Konflik ini juga disebut mengejutkan pihak mediator seperti Oman yang sebelumnya memfasilitasi jalur diplomasi. Bahkan serangan yang menewaskan Ali Khamenei disebut memperkeruh situasi dan memperkecil peluang penyelesaian damai dalam waktu dekat.
Para pengamat menilai Iran berhasil mengubah konflik menjadi tekanan geopolitik global. Serangan balasan yang terus meningkat serta ketidakmampuan sistem pertahanan canggih untuk menahannya, membuat negara-negara kawasan mulai mempertanyakan dominasi militer AS.
Di tengah kondisi ini, posisi Israel justru semakin dipersepsikan sebagai sumber ancaman baru di kawasan. Dukungan penuh AS terhadap setiap langkah militer Israel dinilai memperburuk stabilitas keamanan, ekonomi, dan politik di negara-negara Teluk.
Dengan eskalasi yang terus meningkat, perang ini diperkirakan akan berlangsung panjang dan meninggalkan dampak besar bagi kawasan. Negara-negara Teluk yang sebelumnya menjadi sekutu utama AS justru berpotensi menjadi pihak yang paling terdampak dari konflik berkepanjangan ini. (Bd20)
